MixParlay.co.id, Jakarta – Ajang penghargaan individu dalam sepak bola kerap menuai perdebatan. Proses penilaian yang panjang dan sarat subjektivitas sering kali sulit dipahami. Namun, sulit menutup mata terhadap keputusan tidak memasukkan Raphinha dalam daftar The Best FIFA Men’s 11 2025, sebuah pilihan yang dinilai banyak pihak tidak masuk akal.
Penilaian penghargaan tersebut didasarkan pada performa pemain sepanjang periode 11 Agustus 2024 hingga 2 Agustus 2025. Dalam rentang waktu itu, kontribusi Raphinha bersama Barcelona sejatinya sangat menonjol dan layak mendapat pengakuan.
Winger serba bisa milik Blaugrana itu tampil luar biasa di musim lalu. Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik La Liga dan juga finis sebagai pencetak gol terbanyak bersama di Liga Champions. Bahkan dalam perjalanan Barcelona meraih treble, tidak ada pemain lain—termasuk Lamine Yamal—yang memberikan dampak lebih besar dibanding Raphinha.
Secara statistik, hanya Mohamed Salah yang mencatat keterlibatan gol lebih banyak di semua kompetisi musim 2024/2025, yakni 57 kontribusi, satu lebih banyak dari Raphinha yang mengoleksi 56 gol dan assist. Oleh karena itu, ketika nama Cole Palmer atau Jude Bellingham justru terpilih, pelatih Barcelona, Hansi Flick, menyebut keputusan tersebut sebagai sebuah “lelucon”.
Meski belum sepenuhnya mendapat apresiasi global, Raphinha justru sangat dihargai di internal Barcelona. Flick pun menyambut duel Piala Super Spanyol melawan Real Madrid dengan optimisme tinggi karena sang pemain tengah berada dalam kondisi terbaiknya.
Hampir Angkat Kaki dari Camp Nou
Menariknya, situasi ini sangat kontras dengan kondisi Raphinha setahun sebelumnya. Pada musim panas 2024, Barcelona nyaris melepasnya. Performa yang belum konsisten di musim-musim awal membuat klub yang tengah mengalami kesulitan finansial mempertimbangkan penjualan Raphinha demi mendanai transfer Nico Williams.
Raphinha sendiri tidak menutup kemungkinan hengkang. Ia mengakui masa awal kariernya di Barcelona berjalan sangat berat. Adaptasi yang sulit secara mental sempat membuatnya berpikir untuk mencari tantangan baru.
Didatangkan dari Leeds United dengan nilai transfer besar, Raphinha mengakui tekanan di Barcelona jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Meski memahami tuntutan sebagai pemain klub elite, ia tidak terbiasa menghadapi perjuangan emosional sebesar itu.
Titik Balik dan Perubahan Arah
Performa Raphinha mulai menanjak pada paruh kedua musim keduanya. Ia menyebut hattrick yang dicetaknya ke gawang Paris Saint-Germain di perempat final Liga Champions sebagai momen penting dalam kebangkitannya. Ironisnya, performa apik itu justru membuat minat klub lain semakin besar dan membuka peluang hengkang.
Situasi berubah drastis setelah Barcelona memutuskan berpisah dengan Xavi dan menunjuk Hansi Flick sebagai pelatih anyar. Raphinha mengakui bahwa setelah Copa America 2024, ia kembali mempertimbangkan untuk meninggalkan Barcelona, terlebih karena rumor transfer terus bermunculan dan tekanan publik semakin besar.
Secara mental, ia berada di titik terendah hingga Flick menghubunginya secara langsung. Percakapan itu menjadi penentu masa depannya.
Godaan Arab Saudi dan Keputusan Bertahan
Sebelum diyakinkan Flick, Raphinha sempat tergoda tawaran dari Arab Saudi yang menjanjikan stabilitas finansial jangka panjang bagi dirinya dan keluarganya. Ia merasa telah cukup lama berjuang di dunia sepak bola dan mulai berpikir untuk mengamankan masa depan.
Namun, Flick berhasil meyakinkannya untuk bertahan. Keputusan tersebut kini terbukti sangat tepat, baik bagi sang pemain maupun Barcelona.
Peran Baru di Era Flick
Raphinha secara terbuka mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap peran yang diberikan pelatih sebelumnya. Ia merasa terlalu sering ditarik jauh ke belakang dan terlalu melebar, sehingga kurang terlibat langsung dalam serangan.
Di bawah asuhan Flick, perannya berubah signifikan. Ia kini menjadi pusat permainan ofensif Barcelona. Ketidakhadirannya bahkan langsung terasa ketika ia absen karena cedera.
Musim ini, Barcelona hanya menelan empat kekalahan di semua kompetisi. Menariknya, Raphinha absen atau tidak menjadi starter dalam sebagian besar laga tersebut. Sejak pulih dari cedera hamstring yang membuatnya menepi dua bulan, Raphinha selalu tampil sebagai starter dan Barcelona menyapu bersih kemenangan, dengan kontribusi langsung delapan gol.
Sosok Penting di Dalam dan Luar Lapangan
Pengaruh Raphinha tidak hanya terasa di atas lapangan, tetapi juga di ruang ganti. Para pemain muda menganggapnya sebagai panutan. Bek kiri Barcelona, Alejandro Balde, menyebut kehadiran Raphinha membawa energi positif dan nasihat berharga bagi tim.
Bahkan, Raphinha pernah menjadi sosok penenang bagi Flick saat sang pelatih terlihat tertekan dalam sebuah laga sulit. Ia meyakinkan Flick bahwa Barcelona akan tampil jauh lebih baik, dan keyakinan itu terbukti.
Saat ini, Barcelona tengah menikmati sembilan kemenangan beruntun di semua kompetisi. Kemenangan telak 5-0 atas Athletic Club di semifinal Piala Spanyol menjadi bukti kekuatan mereka. Raphinha kembali menjadi aktor utama dengan satu gol dan dua assist.
Misi Pembuktian yang Berlanjut
Raphinha menyebut Liga Champions sebagai tantangan pribadinya dan Piala Dunia sebagai mimpi terbesar. Namun, ia juga termotivasi oleh rasa kecewa karena merasa belum mendapatkan pengakuan yang pantas setelah musim terbaik dalam kariernya.
Bagi Barcelona, motivasi tersebut justru menjadi keuntungan besar. Ketika Vinicius Junior masih berusaha bangkit dari kekecewaan Ballon d’Or 2024, Raphinha datang dengan misi pembuktian yang jelas—dan Real Madrid patut waspada.











