mixparlay.co.id,Jakarta – Langkah Liverpool di bursa transfer musim dingin memicu banyak tanda tanya. Klub asal Merseyside itu memutuskan tidak melanjutkan perburuan terhadap Marc Guehi, bek Crystal Palace yang akhirnya berlabuh ke Manchester City dengan mahar relatif terjangkau, sekitar 20 juta paun.
Keputusan tersebut terasa kontras dengan manuver Liverpool di saat-saat terakhir jendela transfer. Alih-alih merekrut Guehi yang sudah matang dan berpengalaman di Premier League, The Reds justru menyepakati transfer bek muda Rennes, Jeremy Jacquet, dengan nilai yang bisa menyentuh angka 60 juta paun—tiga kali lipat dari banderol Guehi.
Pilihan ini langsung mengundang perdebatan. Banyak pengamat mempertanyakan logika di balik keputusan Liverpool: mengapa melewatkan bek yang sudah teruji di level tertinggi Liga Inggris, demi pemain berusia 20 tahun yang pengalamannya di Ligue 1 masih sangat terbatas?
Namun, di balik keputusan yang terlihat berisiko itu, Liverpool ternyata memiliki pertimbangan finansial dan strategis yang cukup kuat.
Paket Transfer Guehi Dinilai Terlalu Membebani
Mengacu pada laporan jurnalis The Athletic, James Pearce, Liverpool tidak hanya menilai harga transfer Marc Guehi dari Crystal Palace. Manajemen klub juga menghitung total biaya keseluruhan yang harus dikeluarkan jika bek Timnas Inggris tersebut didatangkan.
Selain harus membayar komisi agen dalam jumlah besar, Guehi juga mengajukan kontrak jangka panjang hingga lima setengah tahun dengan tuntutan gaji yang mencapai sekitar 300 ribu paun per pekan. Jika dikalkulasikan, biaya gaji saja berpotensi menembus angka 80 juta paun lebih.
Dengan tambahan bonus dan komponen lain, total investasi untuk Guehi diperkirakan mendekati 110 juta paun. Angka inilah yang membuat Liverpool akhirnya menarik diri, meski harga awal sang pemain terlihat cukup murah di atas kertas.
Jeremy Jacquet, Pilihan yang Sejalan dengan Filosofi Klub
Di sisi lain, Jeremy Jacquet dinilai jauh lebih cocok dengan arah kebijakan transfer Fenway Sports Group (FSG) selaku pemilik Liverpool. Walau nilai transfernya mencapai 60 juta paun dan menjadikannya bek termahal kedua dalam sejarah klub setelah Virgil van Dijk, Jacquet membawa sejumlah keuntungan jangka panjang.
Faktor usia menjadi poin utama. Jacquet hampir lima tahun lebih muda dibandingkan Guehi, sehingga memberi ruang perkembangan yang jauh lebih besar. Selain itu, struktur gajinya jauh lebih rendah, membuat beban finansial klub tetap terkendali.
Liverpool juga menilai potensi Jacquet sangat tinggi. Meski jam terbangnya masih terbatas, tim pencari bakat The Reds percaya kemampuan dan profil permainan sang bek bisa berkembang pesat di bawah sistem dan lingkungan Anfield.
Aspek lain yang tak kalah penting adalah nilai jual kembali. Dengan usia muda dan kontrak jangka panjang, Jacquet berpeluang menjadi aset bernilai tinggi di masa depan. Bagi Liverpool, ia bukan sekadar solusi instan, melainkan investasi jangka panjang.
Bukan Sekadar Murah atau Mahal
Keputusan Liverpool menolak Marc Guehi dan memilih Jeremy Jacquet menunjukkan bahwa klub tidak hanya berfokus pada harga transfer awal. Perhitungan menyeluruh—mulai dari gaji, durasi kontrak, potensi perkembangan, hingga nilai ekonomi di masa depan—menjadi dasar utama dalam setiap langkah.
Dalam kacamata Liverpool, Jacquet adalah proyek jangka panjang yang sejalan dengan filosofi klub. Bukan pemain jadi, melainkan calon bintang yang diyakini mampu berkembang dan memberi dampak besar di masa depan.











