mixparlay.co.id,Jakarta – Pergantian nakhoda di tubuh Timnas Inggris membawa dampak besar bagi sejumlah pemain. Sejak Thomas Tuchel resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Oktober 2024, peta persaingan internal The Three Lions mengalami pergeseran signifikan. Dengan target jangka pendek yang jelas—membawa Inggris berprestasi di Piala Dunia 2026—Tuchel mulai menyusun skuad berdasarkan kebutuhan instan, bukan reputasi masa lalu.
Situasi tersebut membuat beberapa nama senior perlahan tersingkir dari lingkaran utama tim nasional. Salah satu yang paling terdampak adalah bek Manchester United, Harry Maguire. Meski sarat pengalaman bersama Inggris, perannya semakin kabur sejak Tuchel mulai menerapkan pendekatan barunya.
Penampilan meyakinkan Maguire saat Manchester United menahan laju Manchester City akhir pekan lalu memang kembali memicu diskusi. Namun, dengan waktu yang terus berjalan, peluangnya untuk menambah koleksi 64 penampilan internasional kian terdesak.
Kini berusia 32 tahun dan memasuki masa akhir kontrak bersama Setan Merah, posisi Maguire di level internasional berada di titik krusial. Kendati demikian, rekam jejaknya di turnamen besar tetap menjadikannya opsi yang patut dipertimbangkan, terutama bagi pelatih yang mengutamakan hasil cepat.
Pengalaman Turnamen yang Masih Bernilai Tinggi
Maguire bukan sosok asing dalam panggung kompetisi elite. Ia tampil stabil di Piala Dunia 2018, Euro 2020, hingga Piala Dunia 2022, bahkan kerap menjadi pilar utama di jantung pertahanan Inggris. Di tengah skuad yang kini didominasi pemain dengan jam terbang terbatas di turnamen besar, pengalaman semacam ini jelas memiliki nilai strategis.
Selain itu, Maguire adalah bek tengah berkaki kiri alami—profil yang cukup langka di skuad Inggris saat ini. Ketidakseimbangan lini belakang kerap memaksa Tuchel menempatkan bek berkaki kanan, seperti Marc Guehi, di sisi yang kurang ideal.
Sayangnya, persepsi publik terhadap Maguire sering kali tidak mencerminkan kontribusinya. Sejak direkrut Manchester United dari Leicester City pada 2019 dengan status bek termahal dunia, ia kerap dijadikan simbol kegagalan klub, meski banyak faktor di luar kendalinya.
Tekanan, Label, dan Kritik Berkepanjangan
Sepanjang kariernya, Maguire tidak pernah lepas dari sorotan tajam. Ia kerap menjadi sasaran kritik, bahkan ejekan, termasuk dari sebagian pendukung Leicester City—klub yang justru meraih manfaat besar dari transfernya dengan membangun tim yang kemudian menjuarai Piala FA.
Namun, di ruang ganti dan di mata para pelatih, Maguire dikenal sebagai figur profesional dengan sikap rendah hati. Sejak debutnya di timnas, ia lebih memilih membiarkan performa berbicara ketimbang membangun citra.
Caps terakhirnya bersama Inggris terjadi pada September 2024 saat tim masih ditangani pelatih interim, Lee Carsley. Cedera sempat menghambat momentumnya, dan hingga kini belum ada sinyal kuat bahwa ia masuk dalam rencana utama Tuchel. Meski begitu, konsistensi di paruh kedua musim bersama Manchester United masih bisa membuka celah harapan.
Conor Gallagher Hadapi Tantangan Serupa
Nasib tak jauh berbeda juga dialami Conor Gallagher. Keputusannya hijrah ke Atletico Madrid sempat membuat namanya meredup dari radar tim nasional, meskipun Tuchel cukup mengenalnya sejak bekerja sama di Chelsea. Penampilan terakhir Gallagher untuk Inggris tercatat pada Juni 2025, saat The Three Lions takluk dari Senegal dalam laga uji coba.
Di Spanyol, Gallagher sempat mencetak gol penting dan merasakan kerasnya La Liga. Namun, minimnya kesempatan bermain sebagai starter membuatnya memilih kembali ke Inggris dan bergabung dengan Tottenham Hotspur pada bursa transfer Januari.
Kepulangannya ke Premier League membuka peluang baru untuk kembali mencuri perhatian Tuchel. Dengan gaya bermain box-to-box dan etos kerja tinggi, Gallagher bisa menjadi alternatif berbeda di lini tengah Inggris. Namun, ia dituntut tampil luar biasa di sisa musim jika ingin kembali masuk perhitungan.
Waktu Menjadi Musuh Terbesar
Baik Harry Maguire maupun Conor Gallagher kini berada dalam kondisi serupa: berpacu dengan waktu. Keduanya harus membuktikan bahwa mereka masih relevan di level tertinggi, sebelum pintu menuju Piala Dunia 2026 benar-benar tertutup.
Klasemen Sementara Liga Inggris 2025/2026
| Pos | Klub | Main | M | S | K | Gol | Selisih | Poin |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Arsenal | 22 | 15 | 5 | 2 | 40 | +26 | 50 |
| 2 | Manchester City | 22 | 13 | 4 | 5 | 45 | +24 | 43 |
| 3 | Aston Villa | 22 | 13 | 4 | 5 | 33 | +8 | 43 |
| 4 | Liverpool | 22 | 10 | 6 | 6 | 33 | +4 | 36 |
| 5 | Manchester United | 22 | 9 | 8 | 5 | 38 | +6 | 35 |
| 6 | Chelsea | 22 | 9 | 7 | 6 | 36 | +12 | 34 |
| 7 | Brentford | 22 | 10 | 3 | 9 | 35 | +5 | 33 |
| 8 | Newcastle | 22 | 9 | 6 | 7 | 32 | +5 | 33 |
| 9 | Sunderland | 22 | 8 | 9 | 5 | 23 | 0 | 33 |
| 10 | Everton | 22 | 9 | 5 | 8 | 24 | -1 | 32 |
| 11 | Fulham | 22 | 9 | 4 | 9 | 30 | -1 | 31 |
| 12 | Brighton | 22 | 7 | 9 | 6 | 32 | +3 | 30 |
| 13 | Crystal Palace | 22 | 7 | 7 | 8 | 23 | -2 | 28 |
| 14 | Tottenham | 22 | 7 | 6 | 9 | 31 | +2 | 27 |
| 15 | Bournemouth | 22 | 6 | 9 | 7 | 35 | -6 | 27 |
| 16 | Leeds United | 22 | 6 | 7 | 9 | 30 | -7 | 25 |
| 17 | Nottingham Forest | 22 | 6 | 4 | 12 | 21 | -13 | 22 |
| 18 | West Ham | 22 | 4 | 5 | 13 | 24 | -20 | 17 |
| 19 | Burnley | 22 | 3 | 5 | 14 | 23 | -19 | 14 |
| 20 | Wolves | 22 | 1 | 5 | 16 | 15 | -26 | 8 |











