mixparlay.co.id,Jakarta – Perjalanan Real Madrid dalam beberapa musim terakhir kembali memantik perdebatan klasik. Di tengah prestasi yang naik turun, pertanyaan besar muncul: apakah Los Blancos bermasalah dengan komposisi skuad, atau justru ada yang keliru dalam manajemen kebugaran pemain?
Isu tersebut menguat sejak hengkangnya Xabi Alonso dari struktur tim. Kepergian sang pelatih disebut-sebut tak lepas dari perbedaan pandangan dengan jajaran manajemen, terutama soal siapa yang seharusnya memegang kendali penuh di departemen kebugaran.
Dalam sepak bola modern, peran pelatih fisik tak lagi sekadar pelengkap. Mereka kini menjadi fondasi penting dalam menjaga konsistensi performa tim sepanjang musim. Pada periode kedua Carlo Ancelotti bersama Real Madrid, kembalinya Antonio Pintus sempat dianggap sebagai solusi. Di bawah arahannya, kondisi fisik pemain dinilai lebih siap untuk tampil maksimal di momen-momen krusial.
Dampaknya pun terlihat nyata. Setelah hanya membawa pulang Copa del Rey pada musim 2022/2023, Madrid bangkit dan menyapu bersih La Liga serta Liga Champions pada musim berikutnya. Namun, grafik itu kembali menurun pada musim 2024/2025. Los Blancos gagal meraih satu pun gelar mayor, dan isu kebugaran kembali menjadi sorotan utama.
Fenomena serupa sejatinya juga pernah dialami Barcelona. Xavi Hernandez sukses mempersembahkan gelar liga pada musim debutnya, tetapi badai cedera di musim 2023/2024 membuat Blaugrana tersingkir dari persaingan lebih cepat dari perkiraan. Kala itu, kondisi fisik pemain menjadi salah satu keluhan utama di internal klub.
Langkah cepat pun diambil. Barcelona menunjuk Julio Tous sebagai pelatih kebugaran baru, dan hasilnya langsung terasa. Pada musim 2024/2025, mereka berhasil meraih dua trofi domestik sekaligus: La Liga dan Copa del Rey.
Rekam Cedera dan Dinamika Internal
Berdasarkan sejumlah laporan internal, selama Antonio Pintus bekerja di bawah Ancelotti, Real Madrid mencatat lebih dari 50 kasus cedera per musim dalam tiga dari empat tahun. Seiring waktu, hubungan di internal tim pun dikabarkan mulai merenggang.
Pintus sempat didepak pada bursa musim panas, saat Xabi Alonso membawa Ismael Camenforte sebagai pilihan pelatih fisiknya. Namun, pendekatan tersebut tak sepenuhnya memuaskan manajemen klub. Keputusan untuk memanggil kembali Pintus disebut menjadi salah satu pemicu utama konflik dengan Alonso.
Sayangnya, kembalinya Pintus pada musim ini belum memberikan perubahan signifikan. Nama-nama seperti Trent Alexander-Arnold, Eder Militao, hingga Dani Carvajal harus menepi cukup lama akibat cedera. Meski begitu, perlu dicatat bahwa Militao dan Carvajal memang memiliki riwayat masalah fisik bahkan sebelum periode terakhir Pintus.
Padatnya Agenda dan Minim Rotasi
Real Madrid hampir selalu bermain di level tertinggi dalam berbagai kompetisi. Intensitas pertandingan yang tinggi jelas memberi beban fisik ekstra bagi para pemain, sesuatu yang tak bisa diabaikan dalam analisis cedera.
Di sisi lain, persoalan usia dan rotasi juga mulai terasa. Pemain-pemain kunci seperti Federico Valverde, Antonio Rudiger, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham jarang mendapatkan waktu istirahat. Entah karena keputusan teknis pelatih atau keterbatasan kepercayaan terhadap pemain cadangan, situasi ini membuat beban fisik semakin menumpuk.
Tak mengherankan bila Xabi Alonso sempat mendorong manajemen untuk menambah satu gelandang tengah dan satu bek tengah pada bursa transfer musim panas lalu guna memperdalam skuad.
Barcelona, Cermin dari Masalah yang Sama
Barcelona pun menghadapi dilema serupa. Pada musim terakhirnya, Xavi secara terbuka menyoroti keterbatasan skuad yang membuat tim sulit menjaga konsistensi performa.
Rentetan cedera dan minimnya opsi rotasi diyakini membuat pemain-pemain seperti Pedri, Gavi, dan Ronald Araujo harus bekerja melampaui batas ideal. Dengan skuad yang lebih dalam, kondisi fisik mereka kemungkinan bisa lebih terjaga.
Pada akhirnya, Real Madrid dan Barcelona berada di persimpangan persoalan yang hampir identik: tingginya angka cedera dan komposisi tim yang belum sepenuhnya seimbang.
Menuding satu faktor semata—entah itu kedalaman skuad atau kualitas staf kebugaran—tanpa membenahi keduanya, berpotensi menjadi taruhan mahal di industri sepak bola modern yang bernilai miliaran euro.











