Catatan Sepak Bola: Ketua Komite Wasit PSSI Minta Pemain dan Ofisial Jaga Emosi saat Cek VAR: Bisa Bikin Tempo…

Close-up pemain sepak bola saat latihan, satu mengikat tali sepatu, yang lain menyeimbangkan bola di rumput.
Foto: Miguel Guerra / Pexels

Ketua Komite Wasit Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Yoshimi Ogawa, menegaskan pentingnya kontrol emosi bagi pemain dan ofisial saat proses pemeriksaan Video Assistant Referee (VAR). Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan kompetisi BRI Super League, mengingat penggunaan VAR yang telah resmi diterapkan sejak musim 2023/2024 dapat memengaruhi ritme pertandingan bila tidak dikelola dengan baik.

Ogawa mengingatkan bahwa reaksi berlebihan atau ketegangan yang muncul ketika keputusan VAR sedang ditinjau dapat memperlambat jalannya laga, mengganggu konsentrasi tim, bahkan memicu konflik di dalam lapangan. Ia menekankan bahwa sikap tenang dan profesional menjadi kunci untuk menjaga integritas kompetisi serta memastikan bahwa teknologi ini berfungsi sebagaimana mestinya.

Latar Belakang Penerapan VAR di Indonesia

Sejak musim 2023/2024, sistem VAR resmi diintegrasikan ke dalam kompetisi sepakbola profesional Indonesia. Implementasi ini merupakan bagian dari upaya PSSI untuk menyelaraskan standar pengambilan keputusan dengan praktik internasional, sekaligus meningkatkan keadilan dalam pertandingan. VAR memberikan kesempatan bagi wasit utama untuk meninjau keputusan kritis melalui rekaman video, termasuk gol, penalti, kartu merah, dan kesalahan identitas.

Penggunaan teknologi ini tidak hanya menuntut kesiapan infrastruktur—seperti kamera beresolusi tinggi dan pusat kontrol—tetapi juga menuntut adaptasi mental dari semua pihak yang terlibat. Klub, pemain, pelatih, dan ofisial kini harus terbiasa dengan jeda waktu tambahan yang muncul saat keputusan sedang diverifikasi.

Peran Ketua Komite Wasit PSSI

Sebagai pimpinan tertinggi dalam struktur wasit nasional, Yoshimi Ogawa bertanggung jawab mengawasi standar pelatihan, penilaian, serta kebijakan operasional yang berkaitan dengan penggunaan VAR. Dalam pernyataannya, Ogawa menekankan bahwa peran wasit tidak hanya terletak pada penilaian di lapangan, melainkan juga pada kemampuan mengelola dinamika emosional yang muncul selama proses VAR.

Baca Juga  Update: Bukan Sekadar Gengsi Regional, FIFA ASEAN Cup 2026 Penting untuk Ranking Timnas Indonesia

Komite Wasit PSSI secara rutin mengadakan workshop dan simulasi untuk memperkuat pemahaman teknis serta mentalitas para wasit. Pendekatan ini mencakup skenario-skenario yang menuntut keputusan cepat, sekaligus menyiapkan mereka menghadapi tekanan psikologis yang dapat memengaruhi objektivitas.

Tantangan Emosional dalam Proses VAR

Proses peninjauan VAR menimbulkan ketegangan alami karena keputusan yang diambil sering kali bersifat menentukan hasil pertandingan. Pemain yang merasa dirugikan atau ofisial yang menilai keputusan tersebut dapat mengalami frustrasi, terutama bila peninjauan memakan waktu lebih lama dari yang diharapkan.

Penelitian psikologi olahraga menunjukkan bahwa emosi negatif, seperti kemarahan atau kekecewaan, dapat menurunkan konsentrasi dan meningkatkan risiko perilaku tidak sportif. Dalam konteks VAR, hal ini dapat memperpanjang jeda pertandingan, memicu protes, atau bahkan menimbulkan insiden di luar lapangan.

Dampak Potensial Terhadap Tempo Pertandingan

Tempo permainan merupakan faktor kunci dalam strategi tim. Ketika proses VAR memakan waktu, ritme serangan atau pertahanan dapat terganggu, memaksa pelatih untuk menyesuaikan taktik secara mendadak. Selain itu, pemain yang harus menunggu keputusan dapat mengalami penurunan intensitas fisik, terutama pada fase akhir pertandingan.

Penghentian berulang-ulang juga dapat memengaruhi penonton, baik di stadion maupun yang menonton melalui siaran. Penurunan alur permainan dapat menurunkan tingkat keterlibatan penonton, yang pada gilirannya berdampak pada nilai komersial kompetisi.

Respons Pemain dan Ofisial

Sejak penerapan VAR, sebagian besar klub telah menyesuaikan prosedur internal mereka. Tim medis, pelatih, dan staf psikologik kini lebih aktif dalam memberikan dukungan mental kepada pemain menjelang dan sesudah peninjauan VAR. Beberapa klub bahkan mengadakan sesi briefing khusus untuk menegaskan pentingnya sikap tenang.

Di sisi ofisial, wasit lini dan asisten kini lebih terbiasa dengan prosedur komunikasi melalui headset dan sinyal visual. Mereka dilatih untuk menyampaikan keputusan dengan jelas, sekaligus menjaga suasana tetap kondusif bagi semua pihak.

Baca Juga  Catatan Sepak Bola: Debut Manis Lucas Frigeri, Isenmulang FC Raih Kemenangan Perdana Musim Ini

Langkah-Langkah Pengelolaan Emosi yang Direkomendasikan

Berbagai pendekatan dapat diambil untuk menurunkan tingkat stres selama proses VAR:

  • Pelatihan mental: Mengintegrasikan sesi psikologis dalam program pembinaan pemain dan ofisial untuk meningkatkan toleransi terhadap tekanan.
  • Komunikasi yang transparan: Menyampaikan alasan keputusan VAR secara singkat namun jelas kepada pemain dan pelatih, sehingga mengurangi spekulasi.
  • Pengaturan waktu: Menetapkan standar maksimal durasi peninjauan untuk meminimalkan gangguan pada alur pertandingan.
  • Penggunaan bahasa tubuh: Mengedukasi ofisial tentang cara mengekspresikan ketenangan melalui sikap tubuh, yang dapat menular kepada pemain.
  • Evaluasi pasca-pertandingan: Mengadakan review bersama antara wasit, tim teknis, dan perwakilan klub untuk membahas pengalaman VAR dan mengidentifikasi area perbaikan.

Masa Depan VAR di BRI Super League

BRI Super League, sebagai kompetisi utama di Indonesia, akan terus menjadi laboratorium bagi pengembangan VAR. PSSI berkomitmen untuk memperluas cakupan penggunaan teknologi ini, termasuk peningkatan kualitas gambar dan integrasi data statistik real‑time.

Selain aspek teknis, fokus ke arah budaya sportivitas dan kontrol emosi menjadi prioritas. Upaya kolaboratif antara PSSI, klub, dan lembaga psikologi olahraga diharapkan dapat menciptakan lingkungan kompetitif yang lebih adil dan menyenangkan bagi semua pemangku kepentingan.

Kesimpulan

Seruan Yoshimi Ogawa untuk menjaga emosi saat proses VAR menegaskan bahwa teknologi, sekalipun canggih, tetap memerlukan dukungan mental dari semua pihak. Kontrol emosi bukan hanya soal menghindari gangguan pada tempo pertandingan, melainkan juga tentang menegakkan prinsip keadilan dan sportivitas. Dengan pendekatan yang holistik—menggabungkan pelatihan teknis, dukungan psikologis, dan komunikasi yang efektif—VAR dapat berfungsi optimal tanpa mengorbankan dinamika permainan. Ke depan, keberhasilan implementasi VAR di BRI Super League akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemain, ofisial, dan wasit dalam mengelola tekanan, menjadikan kompetisi sepakbola Indonesia semakin kompetitif dan profesional.

Baca Juga  Update: Timnas Indonesia Ladeni Thailand di Final FIFA ASEAN Cup Malam Nanti, Maarten Paes Diangga...

Referensi topik: Bola.com. Artikel ini ditulis ulang secara orisinal dan tidak menyalin body maupun gambar dari sumber.

Foto oleh Miguel Guerra dari Pexels.